Menjaga Kearifan Lokal Ngadas

Pesona alam wilayah Bromo Tengger dan Semeru sudah dikenal di seluruh dunia. Pesona itu berbalut dengan kehidupan budaya penduduk asli Tengger. Kehidupan suku Tengger sangat kaya dengan tradisi, salah satu momentum tradisi yang besar. Selain Kasodo, adalah upacara Adat Karo atau Hari Raya Karo. Hari Raya Karo dilaksanakan mulai tanggal 7 hingga 22 bulan Karo (Karo dimaknai sebagai bulan kedua dalam kalender Saka), dengan beragam prosesi adat.

Hari Raya Karo bagi suku Tengger merupakan perwujudan syukur atas berkah yang diberikan Tuhan serta penghormatan kepada leluhur mereka. Dalam tadisi Karo, berbagai ritual dilakukan salah satunya Sadranan serta Ojung. Sadranan merupakan puncak peringatan Upacara Karo bagi masyarakat Suku Tengger, Acara Sadranan diawali dengan kunjungan kepala desa, tetua adat dan para undangan. Di rumah tetua adat, mereka akan dijamu dan diharuskan menyantap makanan yang disuguhkan. Dari rumah tetua adat, mereka kembali ke rumah kepala desa dan makan bersama lagi. Selesai makan bersama, seluruh undangan berangkat menuju ke kramat(pemakaman umum) diiringi penampilan kesenian Jaran Kencak.

Di pemakaman umum, warga telah menanti dengan mengenakan pakaian serba baru serta membentangkan tikar dan membuka aneka makanan yang lezat. Mereka mengunjungi makam keluarga, kerabat, atau orang-orang yang dihormati. Setelah doa yang dipimpin oleh tetua adat, maka semua yang hadir makan bersama dengan para arwah nenek moyang dengan bekal yang dibawa dari rumah.